1.1. Kamera
Fotografi adalah suatu teknik memindahkan rupa atau pandangan yang dilihat oleh mata ke dalam suatu gambar menggunakan alat perekam optis (kamera) dengan bantuan cahaya. Seperti banyak orang lazim menyebut “honda” untuk kendaraan roda dua, begitu juga terbiasa kita dengar orang mengatakan “kodak” untuk kamera, misal seperti kalimat ini; “Kalau besok kita jadi jalan-jalan ke Semarang, jangan lupa ‘kodak’ nya dibawa buat foto-foto di a thousand door (lawang sewu)”. Sebetulnya kata “kodak” diambil dari nama depan perusahaan fotografi pertama yaitu Eastman Kodak Company milik George Eastman. Kamera pertama lahir pada tahun 1888 buatan dari George Eastman, kamera tersebut berupa kamera box yang mudah penggunaanya dan menggunakan gulungan film yang dapat dimasukan ke dalam kamera pada keadaan cahaya terang (tidak di kamar gelap).
Saat ini kamera diciptakan dengan berbagai bentuk, bahkan saat ini sudah memasuki era kamera digital (kamera tanpa film). Walaupun demikian kamera-kamera mahal tidak selalu menghasilkan gambar yang baik, karena yang memegang peranan penting dalam menghasilkan foto yang baik adalah fotografer (pemotret) itu sendiri. Dalam fotografi peranan pemotret adalah sebagai seseorang yang melayani dan mengendalikan kamera atau disebut dengan istilah “The Man Behind The Gun”. Karena itu pemotret harus mengenal dan menguasai alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan yang digunakan untuk menghasilkan foto dengan komposisi gambar dan warna yang baik.
Untuk mengenal dan menguasai alat alat serta perlengkapan fotografi dan untuk memahami daasar fotografi, maka pada awal perkuliahan mata kuliah fotografi 1 akan membahas kinerja kamera analog (menggunakan film). Kenapa harus kamera analog, karena kamera digitalpun mempunyai dasar kerja yang sama dengan kamera analog, hanya saja gambar yang terbentuk bukan tersimpan pada film tetapi dalam bentuk data digital.
Kamera yang sering kita jumpai dipasaran adalah jenis kamera format kecil atau sering juga disebut kamera 35 mm karena menggunakan format film 35 mm (24x36 mm). Kamera 35 mm ini terdiri dari dua jenis, yaitu kamera SLR (Single-Lens Reflex) atau dalam bahasa kesayangan kita dapat disebut dengan RLT (Reflek Lensa Tunggal), dan Range Finder Camera (kamera penemu jarak).
Kamera penemu jarak adalah kamera compact berukuran kecil atau biasa disebut kamera pocket karena kamera ini ringan untuk dibawa kemana-mana. Ciri khas kamera ini lensanya terpasang mati (tidak dapat diganti-ganti), dan memiliki jendela bidik yang terpisah dengan lensa kamera sehingga apa yang dilihat pada jendela bidik terkadang bukanlah seperti yang terekam pada film. Penyimpangan apa yang dilihat dengan gambar yang terekam disebut dengan kesalahan parallax. Walaupun kamera pocket sudah ada yang dilengkapi dengan “parallax correction” akan tetapi pada pemotretan jarak pendek akan tetap terjadi parallax. Dengan menggunakan kamera pocket, pemotret tidak dapat mengatur cahaya yang masuk dalam kamera dalam membentuk gambar pada film, sehingga pemotret tidak leluasa dalam kreatifitas pengambilan gambar. Saat ini kamera pocket sudah ada yang dilengkapi dengan lensa majemuk (vario), akan tetapi kamera ini masih terdapat kelemahan untuk pengambilan gambar pada keadaan yang berlebihan cahaya (over exposure) dan sangat kurang cahaya (under exposure).
1.2. Kamera SLR
Kamera Single-Lens Reflex (SLR) atau Reflek Lensa Tunggal (RLT) dengan format film 35 mm terdapat fasilitas prisma dan cermin yang membuat jendela bidik menyatu dengan lensa, hal ini memungkinkan pemotret untuk dapat membidik gambar lewat lensa kamera. Dengan kamera SLR apa yang dilihat pemotret lewat jendela bidik akan sama dengan yang dilihat oleh lensa kamera. Kamera SLR juga memungkinkan untuk kita dapat mengganti-ganti lensa sesuai dengan kebutuhan.
Perekaman gambar pada film terjadi ketika tombol pembuka rana kita tekan. Tombol pembuka rana terletak disebelah kanan pada bagian atas kamera SLR. Jika tombol pembuka rana kita tekan setengah, maka pengukur cahaya kamera yang akan membentuk gambar pada film akan aktif. Pengukur cahaya tersebut akan terlihat lewat jendela bidik. Tombol pembuka rana kita tekan penuh maka rana akan membuka dan cahaya akan mengenai film sehingga terjadilah perekaman gambar pada film. Pada tombol pembuka rana terdapat ulir sekrup untuk memasang kabel pembuka rana. Dengan kabel tersebut kita dapat membuka rana untuk merekam gambar tampa menyentuh kamera. Membuka rana untuk merekam gambar dapat juga dilakukan dengan memutar tuas penghitung waktu otomatis. Setelah tuas penghitung waktu kita putar, maka dalam beberapa detik rana akan membuka secara otomatis. Untuk menghindari goncangan kamera jika kita membuka rana dengan kabel atau tuas penghitung waktu, maka sebaiknya gunakan tripod (=kakitiga) untuk menyangga kamera (sandaran kamera). Dari uraian di atas terdapat tiga cara membuka rana agar cahaya mengenai film untuk perekamaan gambar :
1. Dengan menekan penuh tombol pembuka/pelepas rana
2. Dengan kabel pembuka/pelepas rana
3. Dengan memutar tuas penghitung waktu otomatis.
Untuk merekam gambar yang baik dengan kamera SLR dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut (penjelasan lebih lanjut pada bab berikutnya) :
1. Pilihan untuk menentukan kecepatan buka tutup rana, dalam hal ini pemotret menentukan waktu yang digunakan cahaya untuk dapat mencahayai film.
2. Pilihan untuk menentukan jarak dan ruang gambar yang terekam pada film tampak jelas dan tajam, hal ini disebut dengan ruang ketajaman (depth of field).
3 (tiga) faktor penentu ruang ketajaman : diafragma (Aperture), focal length (jarak fokus pada lensa), dan jarak pemotretan.
3. Dapat melakukan pilihan untuk menentukan peralatan sesuai dengan kebutuhan, seperti mengganti lensa yang sesuai dengan moment pemotretan , memilih filter yang dapat digunakan untuk meningkatkan kreatifitas, dan memanfaatkan cahaya buatan (lampu pijar, flash, blitz) sebagai penyinaran utama atau pengisi (fill-in).
1.3. Panel-panel Kamera RLT/SLR
Bentuk panel-panel pada tiap kamera SLR terkadang berbeda, tetapi secara umum memiliki fungsi yang sama.. Kamera nikon FM2 termasuk kamera yang memiliki fasilitas standar untuk SLR manual, dan banyak digunakan oleh fotografer. Untuk itu dalam mengenalkan bagian-bagian yang ada pada kamera SLR manual dibawah ini akan diuraikan panel-panel yang ada pada kamera Nikon FM2.
( Saran pembelajaran : siswa diharapkan melihat langsung kamera SLR manual merk lainnya, contoh : canon, braun, yashica, pentax, sehingga siswa dapat membandingkan, dan mengerti fungsi panel secara umum pada kamera SLR )
a. Kamera bagian depan
1. dudukan lensa
2. cermin pemantul bayangan lensa
3. tombol pandang ruang tajam
4. tuas penghitung waktu otomatis
5. lubang kabel singkronisasi
6. tombol pelepas lensa
b. Kamera bagian atas
1. tuas penggulung film dan pembuka punggung kamera
2. dudukan lampu kilat / blitz
3. gelang pemutar diafragma (aperture) pada lensa
4. gelang focus lensa (range finder)
5. gelang kecepatan rana (shutter speed) dan pengatur ASA/ISO
6. tombol pembuka rana dilengkapi dengan lubang sekrup untuk memasang kabel pembuka rana.
7. tuas pemutar maju film (pengokang film)
8. tuas multiple exposure (bidikan ganda)
9. bingkai penghitung film
c. Kamera bagian belakang
1. jendela bidik
2. tutup punggung film
3. lubang sekrup untuk kaki tiga (tripod)
4. tempat baterai untuk mengaktifkan alat ukur cahaya
5. pelepas gulungan film
6. kontak elektri untuk motor drive
1.4. Hal Penting Dalam Pemotretan
Pengambilan gambar dengan kamera ditentukan oleh dua hal penting, yaitu focus dan cahaya.
Focus
Yang dimaksud focus disini adalah pengambilan gambar sebagai objek pemotretan yang tidak kabur (tajam), dalam hal ini pada lensa kamera SLR manual dilengkapi dengan gelang focus yang berupa gelang pengatur jarak (range finder). Gelang tersebut berfungsi untuk menemukan jarak antara lensa dengan film. Dengan memutar gelang tersebut maka lensa dapat menjauh atau mendekat ke film sampai ditemukan jarak yang tepat antara lensa dan film. Dengan ditemukan jarak yang tepat antara lensa dan film maka akan terekam gambar yang tajam pada film.
Dibawah ini adalah macam-macam teknologi range finder yang terdapat pada lensa kamera SLR :
a. Split-image = gambar belah
Melalui jendela bidik didalam lensa terlihat lingkaran dengan garis tengah horizontal. Lingkaran tersebut digunakan sebagai indikator ketepatan jarak antara lensa dengan film. Jarak sudah tepat (gambar tajam) jika gambar yang terdapat pada lingkaran akan tersambung lurus secara vertikal. Dibawah ini contoh pengambilan gambar 2 bidang empat persegi panjang :
b. Double image = gambar rangkap
Lewat jendela bidik dalam lensa terdapat indikator untuk mengetahui jarak antara lensa dan film yang tepat, indikator tersebut berupa lingkaran kecil yang biasanya berwarna agak kuning. Untuk keadaan jarak lensa dengan film atau focus yang belum tepat (incorrect focus) maka gambar yang terlihat didalam lingkaran akan menjadi double (memiliki bayangan). Bayangan akan hilang jika dalam keadaan focus yang benar (correct focus)
c. Micro Prism = prisma mikro
Gambar yang terlihat lewat jendela bidik pada lingkaran kecil (indikator) di lensa pada keadaan focus yang belum pas akan terlihat kasar, kesan kasar tersebut akan hilang jika focus telah tepat. Perbandingan kekasaran dan kehalusan gambar ini akan sulit terlihat pada pemotretan malam hari atau keadaan cuaca yang buruk.
d. Ground Glass = kaca buram
Seluruh permukaan lensa akan menjadi indikator untuk menentukan focus yang tepat. Pada focus yang tepat maka seluruh gambar pada lensa yang terlihat lewat jendela bidik akan telihat tajam dan jelas (tidak buram).
Cahaya
Menurut salah satu teori tentang cahaya, cahaya (exposure) adalah gelombang elektromagnetik yang berasal dari penyinaran (lighting), gelombang elektomagnetik tersebut berjalan kesatu arah dan tidak dapat membelok, tetapi dapat memantul jika terkena permukaan-permukaan benda padat. Kekuatan cahaya akan semakin lemah dalam perjalanannya, semakin jauh cahaya berjalan maka akan semakin lemah cahaya tersebut. Begitu juga jika cahaya terpantul, maka sebagian kecil cahaya akan terserap oleh permukaan pantul tersebut. Kecepatan cahaya tergolong sangat tinggi, dibanding dengan kecepatan suara maka kecepatan cahaya jauh lebih tinggi. Penyinaran (lighting) sebagai penghasil cahaya dapat berasal dari sinar alam (sinar matahari, sinar bulan) dan sinar buatan (lampu pijar, flash, blitz).
Cara kerja kamera hampir sama dengan mata kita, pada mata manusia terdapat pupil yang berguna untuk menerima cahaya, pupil dapat memebar dan menciut. Jika kita melihat sinar yang sangat terang (berhadapan langsung dengan sumber sinar) maka mata kita akan berlebihan cahaya (over exposure), dalam keadaan seperti ini pupil akan mengecil agar benda-benda di depan kita bisa terlihat. Mata akan melihat dengan jelas jika pupil membuka dengan tepat sehingga cahaya masuk ke mata sesuai dengan kebutuhan. Demikian juga kamera, untuk merekam sebuah gambar yang menjadi objek pemotretan diperlukan cahaya yang pas agar gambar tampak jelas terekam pada film. Banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan untuk merekam gambar pada film diperlukan pengaturan yang tepat.
Pada kamera SLR untuk memperoleh cahaya yang diperlukan secara tepat diperlukan pengaturan proses masuknya cahaya yang terdiri dari :
a. penggunaan ASA / ISO film
b. mengatur besar kecilnya bukaan diafragma / aperture lensa (= pupil pada mata)
c. menentukan waktu cahaya mengenai film, dengan mengatur kecepatan buka tutup rana (shutter speed)
Cahaya yang masuk ke kamera, dapat diibaratkan dengan pengisisan air didalam ember. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Pada gambar diatas diafragma diibaratkan sebagai mulut kran, maka semakin besar bukaan difragma semakin banyak cahaya (=air) yang menuju ke film (=ember), sehingga diperlukan sedikit waktu (nilai shutter speed kecil). Dan sebaliknya semakin kecil bukaan difragma semakin sedikit cahaya yang menuju film sehingga diperlukan waktu yang banyak (nilai shutter speed besar).
Film dengan format 35mm yang digunakan pada kamera LSR maupun pocket mempunyai tingkat kepekaan tertentu terhadap cahaya. Dalam menentukan nilai kepekaan masing-masing perusahaan film (Fuji, kodak, konika, dll) mempunyai nilai standar yang sama. Angka-angka yang menunjukan nilai kepekaan film terhadap cahaya mengikuti standar dari ASA (American Standards Association) atau ISO (International Organization for Standardization). Di wilayah negara eropa mengikuti standart dari DIN (Deutsche Industrie Normen / standar industri Jerman), dan di jepang mengikuti standar JIS (Japan Industry Standard). Semakin tinggi nilai ASA semakin peka film tersebut terhadap cahaya, sehingga semakin cepat terbentuk gambar pada film tersebut. Dengan kata lain film yang nilai ASA nya tinggi memerlukan sedikit cahaya dalam merekam gambar sehingga dapat diibaratkan sebagai ember kecil. Contoh : Jika kita menggunakan film ASA 200 maka dalam merekam gambar diperlukan ½ (setengah) dari cahaya yang digunakan oleh ASA 100, dan jika menggunakan ASA 400 maka diperlukan ½ (setengah) dari cahaya yang digunakan oleh ASA 200.











0 comments:
Post a Comment